BISNISINSPIRE.COM – Tokyo/New York, 26 Januari 2026 – Mata uang yen Jepang menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, seiring meningkatnya spekulasi pasar bahwa otoritas moneter Jepang dan Amerika Serikat berpeluang melakukan intervensi terkoordinasi di pasar valuta asing. Penguatan ini menjadi salah satu pergerakan paling signifikan dalam beberapa pekan terakhir dan langsung mengubah sentimen pelaku pasar global.
Pada perdagangan awal pekan, pasangan nilai tukar USD/JPY tercatat melemah ke kisaran ¥153–154 per dolar AS, atau berada di level terendah dalam beberapa bulan. Penguatan yen tersebut terjadi secara cepat, memicu aksi penyesuaian posisi oleh investor yang sebelumnya bertaruh pada pelemahan mata uang Jepang.
Sentimen pasar menguat setelah muncul laporan bahwa Federal Reserve Bank of New York melakukan “rate check” atau pemeriksaan tren pergerakan pasar pada akhir pekan lalu. Langkah ini kerap dipersepsikan pelaku pasar sebagai sinyal awal sebelum otoritas melakukan intervensi resmi untuk menstabilkan nilai tukar, khususnya ketika volatilitas meningkat tajam.
Prashant Newnaha, Senior Rates Strategist TD Securities yang berbasis di Singapura, menilai bahwa pasar sebelumnya berada dalam posisi short terhadap yen. Namun, menurutnya, meningkatnya peluang koordinasi antara Jepang dan Amerika Serikat membuat strategi tersebut menjadi tidak lagi aman. Ia menekankan bahwa perubahan ekspektasi kebijakan sering kali memicu pergerakan nilai tukar yang agresif dalam waktu singkat.
Pandangan serupa disampaikan Marc Chandler, Chief Market Strategist Bannockburn Capital Markets di New York. Ia mengatakan bahwa psikologi pasar berubah dengan sangat cepat akibat rumor intervensi, sehingga tren pelemahan yen yang sebelumnya dominan kini kehilangan momentumnya. Chandler menilai, ketika isu intervensi melibatkan lebih dari satu otoritas besar, dampaknya terhadap pasar biasanya jauh lebih kuat.
Dari sisi pemerintah, otoritas Jepang belum memberikan konfirmasi resmi terkait rencana intervensi. Namun, diplomat mata uang Jepang Atsushi Mimura serta Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan bahwa Tokyo berada dalam “koordinasi dekat dengan pihak Amerika Serikat” terkait kebijakan nilai tukar. Pernyataan tersebut cukup untuk memperkuat keyakinan pasar bahwa langkah bersama tetap menjadi opsi yang terbuka apabila volatilitas dianggap berlebihan.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan selanjutnya, termasuk sikap lanjutan Bank of Japan dan Federal Reserve, yang dinilai akan sangat menentukan arah pergerakan yen dan stabilitas pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan. (BCM)



