BISNISINSPIRE.COM – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dalam beberapa periode terakhir memperlihatkan fluktuasi signifikan, yang menawarkan peluang cuan bagi investor maupun pedagang di pasar fisik maupun digital. Data harga resmi dari Logam Mulia menunjukkan bahwa harga jual emas Antam per gram bergerak di kisaran jutaan rupiah, dengan catatan bahwa buyback (harga beli kembali) juga mengalami penyesuaian mengikuti tren pasar global dan domestik.
Sebagai contoh, pada perdagangan 19 November 2025, harga emas Antam tercatat naik sekitar Rp21.000 menjadi Rp2.343.000 per gram, sedangkan harga buyback ikut naik menjadi sekitar Rp2.204.000 per gram, dibanding periode sebelumnya. Harga pecahan lain juga mengikuti tren ini; untuk pecahan 0,5 gram naik menjadi Rp1.221.500 dan 2 gram menjadi Rp4.626.000.
Data lain memperlihatkan bahwa pada awal Januari 2026, harga emas Antam juga telah mencapai kisaran lebih dari Rp2,5 juta per gram di pasar domestik, dengan berbagai pecahan dari 0,5 gram hingga 500 gram yang masing-masing menunjukkan penguatan harga seiring permintaan safe-haven yang kuat.
Untuk investor yang ingin jual atau beli emas Antam demi keuntungan, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, selisih antara harga jual dan harga buyback adalah komponen utama dalam mengukur potensi cuan. Buyback adalah harga yang akan Anda terima apabila menjual kembali emas kepada Antam atau melalui jaringan resmi. Selisih ini bisa mencapai ratusan ribu rupiah per gram pada periode harga tinggi, terutama ketika harga jual meningkat lebih cepat daripada buyback.
Selain itu, transaksi jual beli emas batangan Antam juga dikenakan aturan pajak sesuai regulasi pemerintah. Ketika menjual emas kembali ke Antam dengan nilai lebih dari Rp10 juta, Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5% untuk pemilik NPWP dan 3% untuk non-NPWP akan langsung dipotong dari nilai buyback. Hal ini mempengaruhi hasil akhir cuan bersih bagi investor yang ingin merealisasikan keuntungan.
Strategi pencari cuan di pasar emas Antam umumnya terbagi menjadi dua pendekatan: jangka panjang dan jangka pendek. Investor jangka panjang cenderung membeli emas ketika harganya turun, menyimpannya sebagai lindung nilai terhadap inflasi atau gejolak ekonomi, lalu menjualnya pada periode harga tinggi. Sementara itu, trader jangka pendek memanfaatkan momentum pergerakan pasar, mengikuti data harga harian dan sentimen global untuk memperoleh keuntungan dari fluktuasi harian.
Sentimen pasar global, seperti ketidakpastian ekonomi, kebijakan suku bunga bank sentral dunia, dan tekanan geopolitik, kerap mendorong harga emas naik dan menjadi waktu yang baik bagi pemegang emas untuk merealisasikan keuntungan—terutama bila buyback mendekati atau berada di dekat level tertinggi historisnya.
Bagi pembeli, timing pembelian juga krusial. Membeli saat harga emas terkoreksi memberi margin selisih risiko yang lebih tinggi apabila emas tersebut dijual kembali di masa depan saat harga kembali menguat. Sebaliknya, membeli pada puncak pergerakan harga bisa mempersulit target cuan jika harga tidak segera rebound.
Perdagangan emas Antam juga dipengaruhi oleh lokasi, biaya penyimpanan, dan biaya transaksi di galeri atau platform digital. Jadi, bagi pencari cuan, memantau harga jual dan buyback secara rutin serta memperhitungkan pajak transaksi adalah kunci untuk mendapatkan hasil investasi yang optimal di pasar logam mulia Indonesia. (GMB)



