Umum

Dari Pandemi hingga Krisis Global, Adu Kuat Emas vs Perak Terbongkar

391
×

Dari Pandemi hingga Krisis Global, Adu Kuat Emas vs Perak Terbongkar

Share this article

BISNISINSPIRE.COM – Sepanjang lima tahun terakhir, sejak 2020 hingga 2025, investasi logam mulia seperti emas dan perak menjadi sorotan utama investor di tengah pergolakan ekonomi global. Para pelaku pasar melihat kedua logam ini bukan sekadar barang koleksi, tetapi sebagai instrumen investasi yang punya karakter berbeda dalam merespons perubahan ekonomi, inflasi, dan kondisi geopolitik.

Pada tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 memicu krisis global, investor mencari aset yang mampu menyimpan nilai di tengah kejatuhan pasar modal. Harga emas rata-rata bergerak di kisaran US$1.773 per troy ounce, dengan harga penutupan tahunan hampir US$1.895 per ounce, menunjukkan kenaikan tajam dibanding tahun sebelumnya. Data historis memperlihatkan bahwa emas mencatat pertumbuhan sekitar 24,43% pada 2020, mencerminkan perannya sebagai instrumen safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Perak di tahun yang sama justru mengalami lonjakan yang lebih kuat secara persentase. Harga perak rata-rata tahunan pada 2020 ada di sekitar US$20,69 per ounce, dengan kenaikan lebih dari 47% dibanding tahun sebelumnya, seiring permintaan industri dan fungsi perak sebagai logam mulia yang juga dipakai dalam sektor teknologi dan manufaktur.

Memasuki 2021 dan 2022, harga emas menunjukkan tren stagnan hingga sedikit turun. Pada 2021, harga emas rata-rata berada di sekitar US$1.798,89 per ounce dan turun tipis di 2022, sementara perak bergerak lebih fluktuatif. Tahun-tahun ini ditandai oleh pengetatan kebijakan moneter di negara maju, termasuk kenaikan suku bunga yang menekan permintaan terhadap logam mulia secara umum.

Namun tren berubah lagi pada 2023 dan 2024 ketika permintaan terhadap logam mulia kembali meningkat di tengah kekhawatiran inflasi dan volatilitas pasar aset berisiko. Pada 2023, harga emas rata-rata meningkat ke US$1.943 per ounce, sementara perak berada di sekitar US$23,40 per ounce. Pada 2024, emas kembali menguat di kisaran US$2.388,98 per ounce, dan perak menunjukkan kenaikan yang lebih moderat di sekitar US$28,27 per ounce.

See also  Gubernur Khofifah Tutup Rangkaian Misi Dagang 2025 di Batam, Komitmen Dagang Jatim–Kepri Catatkan Transaksi Tertinggi Capai Rp 4,456 Triliun dan Hasilkan LoI dengan Malaysia

Pada 2025, momentum pasar logam mulia semakin kuat. Emas melonjak drastis sepanjang tahun dengan kenaikan harga tahunan mencapai rekor, mendorong harga logam kuning itu menembus level di atas US$4.400 per ounce menjelang akhir tahun. Lonjakan ini diantaranya dipicu oleh ekspektasi pasar akan penurunan suku bunga di Amerika Serikat serta meningkatnya permintaan safe haven akibat geopolitik yang tidak menentu. Dalam rally tahunan tersebut, emas mencatatkan salah satu performa terbaiknya sejak 1979.

Perak pada 2025 juga mencatat pertumbuhan luar biasa. Data menunjukkan bahwa harga perak mencapai level tertinggi generasi baru, dengan kenaikan tahunan yang bahkan overshadow emas di beberapa periode dan mencapai lebih dari US$75 per ounce pada akhir 2025. Perak diuntungkan oleh kombinasi permintaan investor dan kebutuhan industri yang tetap kuat. Namun volatilitas harga perak tetap tinggi karena logam ini sangat dipengaruhi oleh permintaan industri dan dinamika pasokan global.

Perbandingan tren lima tahunan menunjukkan bahwa emas umumnya menawarkan stabilitas lebih tinggi dan reli yang konsisten dalam jangka panjang. Perak, meskipun memberikan peluang kenaikan harga lebih tinggi terutama pada pasar bullish, diwarnai oleh fluktuasi harga yang lebih ekstrem dan sensitivity terhadap kondisi ekonomi global. Fenomena tersebut terlihat dari rasio harga emas terhadap perak yang sempat melebar signifikan, mencerminkan perubahan sentimen investor antara aset safe haven dan komoditas industri.

Investor biasanya memandang emas sebagai instrumen jangka panjang yang cocok untuk lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik, sementara perak lebih menarik bagi mereka yang bersedia menerima risiko lebih besar demi kemungkinan imbal hasil tinggi. Meski demikian, banyak analis menyarankan diversifikasi dalam portofolio logam mulia dengan kombinasi emas dan perak untuk meraih keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan nilai aset.

See also  Gubernur Khofifah Resmikan Resource Center Deteksi dan Intervensi Dini Ketunarunguan di Surabaya

Secara keseluruhan, data dari 2020 hingga 2025 menunjukkan bahwa baik emas maupun perak memiliki tempatnya masing-masing dalam strategi investasi. Emas tetap unggul sebagai safe haven yang relatif stabil di masa gejolak, sementara perak dapat memberikan keuntungan lebih tinggi dalam fase pasar tertentu, khususnya ketika permintaan industri meningkat. Bagi investor yang mempertimbangkan logam mulia sebagai bagian dari portofolio jangka panjang, pemahaman atas karakteristik kedua logam ini menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi yang matang. (KOV)