BisnisUmum

BPS Catat Nilai Impor Indonesia Naik Jadi US$19,21 Miliar

361
×

BPS Catat Nilai Impor Indonesia Naik Jadi US$19,21 Miliar

Share this article

BISNISINSPIRE.COM – JAKARTA, 25 Mei 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada Maret 2026 mencapai US$19,21 miliar atau naik 1,51 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan impor tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan sektor nonmigas yang mencapai US$16,04 miliar atau meningkat 1,54 persen secara tahunan. Sementara impor migas tercatat sebesar US$3,17 miliar atau naik 1,34 persen.

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia sepanjang Januari–Maret 2026 mencapai US$61,30 miliar atau tumbuh 10,05 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Kenaikan terbesar berasal dari impor nonmigas yang naik 12,16 persen menjadi US$52,97 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan peningkatan impor terutama ditopang oleh kenaikan impor bahan baku dan barang modal yang menunjukkan aktivitas industri dan investasi nasional masih tumbuh positif.

BPS mencatat impor bahan baku dan penolong pada Januari–Maret 2026 mencapai US$43,17 miliar. Sementara impor barang modal tumbuh 4,98 persen secara tahunan menjadi US$3,89 miliar.

Sebaliknya, impor barang konsumsi mengalami penurunan sebesar 10,81 persen menjadi US$1,55 miliar. Kondisi ini dinilai mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik dibanding konsumsi barang impor.

Dari sisi negara asal, Tiongkok masih menjadi penyumbang impor nonmigas terbesar ke Indonesia, disusul Australia, Singapura, dan sejumlah negara ASEAN lainnya. Komoditas utama yang mendominasi impor antara lain mesin dan peralatan mekanis, mesin elektrik, logam mulia, serta produk kimia.

Meski impor meningkat, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Surplus perdagangan Januari–Maret 2026 tercatat sebesar US$5,55 miliar yang ditopang sektor nonmigas.

Pengamat ekonomi menilai kenaikan impor bahan baku dan barang modal menjadi sinyal positif bagi sektor industri nasional karena menunjukkan aktivitas manufaktur dan investasi masih bergerak aktif di tengah ketidakpastian ekonomi global. (HEJ)

See also  Gubernur Khofifah Resmikan Resource Center Deteksi dan Intervensi Dini Ketunarunguan di Surabaya