BISNISINSPIRE.COM – Investasi emas kembali membuktikan ketahanannya sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang. Jika ditarik ke belakang, seseorang yang membeli emas senilai Rp1 juta pada tahun 2000 dan menjualnya pada tahun 2026 akan menikmati kenaikan nilai yang sangat signifikan, mencerminkan kekuatan emas dalam menjaga daya beli selama lebih dari dua dekade.
Pada tahun 2000, harga emas dunia masih berada di kisaran USD 270–280 per troy ounce. Di Indonesia, harga emas batangan saat itu berada di kisaran Rp70.000 hingga Rp90.000 per gram, tergantung kurs rupiah dan biaya cetak. Dengan asumsi harga rata-rata Rp80.000 per gram, dana Rp1 juta pada tahun 2000 setara dengan sekitar 12,5 gram emas.
Memasuki tahun 2026, harga emas mengalami lonjakan tajam seiring krisis global, inflasi berkepanjangan, konflik geopolitik, serta meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral dunia. Pada Januari 2026, harga emas batangan di Indonesia telah menembus kisaran Rp1.600.000 hingga Rp1.750.000 per gram. Dengan asumsi harga konservatif Rp1.650.000 per gram, kepemilikan 12,5 gram emas kini bernilai sekitar Rp20,6 juta.
Artinya, investasi Rp1 juta pada tahun 2000 mengalami kenaikan lebih dari 20 kali lipat dalam 26 tahun. Jika dihitung secara sederhana, kenaikan ini setara dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 12–13 persen per tahun, sebuah angka yang kompetitif dibandingkan banyak instrumen investasi lainnya, terutama jika mempertimbangkan stabilitas dan minimnya risiko gagal bayar.
Kinerja tersebut menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Selama periode 2000 hingga 2026, nilai rupiah mengalami pelemahan signifikan, sementara biaya hidup dan harga kebutuhan pokok terus meningkat. Dalam konteks ini, emas tidak hanya menjaga nilai uang, tetapi juga meningkatkan daya beli pemiliknya dalam jangka panjang.
Pengamat ekonomi menilai, meski emas tidak menghasilkan bunga atau dividen, kekuatannya terletak pada ketahanan nilai. Emas terbukti mampu bertahan melewati berbagai fase krisis, mulai dari krisis keuangan global 2008, pandemi Covid-19, hingga ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir.
Kisah investasi Rp1 juta pada tahun 2000 yang berkembang menjadi lebih dari Rp20 juta di 2026 menjadi ilustrasi nyata bahwa emas bukan instrumen untuk keuntungan instan, melainkan sarana membangun nilai kekayaan secara konsisten dan berkelanjutan. Bagi investor jangka panjang, emas tetap relevan sebagai penyangga portofolio di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah. (BPT)



