BisnisEkonomi

Demam Investasi Perak di China: FOMO Mengguncang Pasar Logam Mulia di Tengah Kekhawatiran Pasokan

330
×

Demam Investasi Perak di China: FOMO Mengguncang Pasar Logam Mulia di Tengah Kekhawatiran Pasokan

Share this article

BISNISINSPIRE.COM – Permintaan terhadap perak di China melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, memunculkan fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan investor ritel dan pelaku pasar industri. Lonjakan ini terjadi di tengah keterbatasan pasokan global yang semakin menekan harga logam putih tersebut dan kebijakan baru pemerintah China yang memperketat aturan ekspor.

Data dari pasar internasional menunjukkan tren kenaikan harga perak yang signifikan sejak awal 2025. Harga perak sempat menyentuh level tertinggi mendekati US$84 per troy ounce sebelum sedikit terkoreksi, namun tetap jauh di atas level historis normal. Kenaikan ini didorong oleh beberapa faktor di antaranya permintaan industri global yang kuat terutama dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik dan elektronik, serta kekhawatiran terhadap pasokan yang terus menipis. Market data juga memperlihatkan struktur pasar silver yang telah mengalami defisit selama beberapa tahun terakhir, dengan permintaan global pada 2024 mencapai lebih dari 1,24 miliar troy ounce sementara pasokan hanya sekitar 1,01 miliar troy ounce — menghasilkan kesenjangan yang terus menekan inventaris dunia.

China, yang menguasai sekitar 60 hingga 70 persen kapasitas pemurnian perak dunia, memainkan peran kunci dalam dinamika ini. Mulai 1 Januari 2026 pemerintah China memberlakukan aturan baru yang mewajibkan eksportir perak memperoleh lisensi khusus dari negara, langkah yang dipandang sebagai upaya mengamankan pasokan domestik bagi industri strategis seperti panel surya dan manufaktur elektronik. Kebijakan ini diperkirakan dapat mengurangi pasokan perak global secara drastis karena hanya perusahaan besar yang memenuhi kriteria produksi dan finansial yang dapat mengekspor logam tersebut.

Efeknya terhadap pasar sangat nyata. Di Shanghai Premium untuk perak fisik mencapai selisih besar dibandingkan harga kontrak di pasar komoditas London atau Amerika Serikat menunjukkan permintaan dalam negeri yang memaksa pembeli untuk bersaing lebih ketat atas logam yang tersedia. Sementara itu, laporan lain mencatat konsumen di China mulai memburu emas batangan dan perak fisik bukan hanya untuk keperluan investasi besar oleh institusi tetapi juga untuk kepemilikan perorangan. Media lokal bahkan melaporkan bahwa tidak hanya investor profesional tetapi juga kelompok masyarakat biasa di kota kecil hingga wilayah rural ikut membeli perak sebagai bentuk investasi sehingga mendorong demam pasar di tengah masyarakat luas.

See also  Harga Cabai Rawit Merah dan Telur Ayam Ras Terkini Menurut BI.

Fenomena FOMO perak ini mirip dengan apa yang terjadi di pasar aset lain ketika momentum harga melonjak tajam. Investor ritel khawatir tertinggal ketika melihat harga terus naik dan media sosial dipenuhi cerita tentang keuntungan dari memegang perak. Namun para analis mengingatkan bahwa reli semacam ini berisiko tinggi mengalami koreksi tajam jika pasokan kembali meningkat atau kebijakan berubah. Dalam kondisi pasar yang sangat terpaut antara harga fisik dan harga kontrak derivatif, volatilitas perak cenderung lebih tinggi dibandingkan logam lain seperti emas, yang membuat keputusan investasi harus didasarkan pada pemahaman risiko yang matang.

Kendati demikian, permintaan industri terhadap perak diperkirakan tetap kuat dalam jangka menengah karena logam ini esensial dalam banyak teknologi hijau dan elektronik mutakhir. Namun apakah demam FOMO ini akan berlanjut atau justru berujung pada koreksi pasar masih menjadi pertanyaan besar di tengah dinamika kebijakan perdagangan global dan sentimen investor yang terus berubah. Analisis pasar menyebutkan bahwa langkah diversifikasi portofolio serta kewaspadaan terhadap pergerakan harga fisik versus harga derivatif menjadi kunci bagi investor yang terlibat di pasar perak saat ini. (UIX)