BISNISINSPIRE.COM – Sektor perbankan Indonesia memasuki akhir November 2025 dengan dinamika yang menunjukkan adanya tekanan likuiditas jangka pendek pada sejumlah bank menengah, sementara bank-bank besar mempercepat konsolidasi neraca dan memperkuat cadangan untuk mengantisipasi volatilitas pada kuartal pertama 2026. Pergerakan ini dipicu oleh kombinasi meningkatnya kebutuhan pendanaan korporasi, penyesuaian kebijakan suku bunga global, dan masih terbatasnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di sektor ritel.
Pelaku industri mencatat adanya kenaikan cost of fund pada beberapa bank yang secara agresif menawarkan deposito dengan suku bunga di atas rata-rata pasar. Praktik ini terjadi seiring persaingan penghimpunan likuiditas yang semakin ketat, terutama setelah sejumlah bank digital menghentikan program bunga tinggi yang selama dua tahun terakhir menjadi pendorong masuknya dana segar dari generasi pengguna baru. Perubahan strategi ini membuat sebagian dana kembali berpindah ke bank konvensional, namun tidak sepenuhnya menutup kesenjangan kebutuhan pendanaan jangka pendek.
Dari sisi kredit, penyaluran pinjaman tetap tumbuh moderat di kisaran 8,5–9,3 persen secara tahunan, dipimpin sektor manufaktur, perdagangan besar, serta pembiayaan proyek pemerintah. Namun, pertumbuhan tersebut belum diimbangi peningkatan DPK, yang hanya berada pada estimasi pertumbuhan 6–7 persen. Perbedaan laju pertumbuhan ini menjadi faktor utama meningkatnya rasio loan to deposit pada beberapa kelompok bank.
Otoritas moneter disebut terus melakukan pemantauan ketat terhadap struktur pendanaan industri, terutama terkait stabilitas likuiditas dan kesiapan bank menghadapi potensi normalisasi suku bunga global pada semester pertama 2026. Pelaku pasar memperkirakan bahwa suku bunga acuan dalam negeri masih berada pada level stabil untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pengendalian inflasi.
Sementara itu, perbankan besar memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat ekspansi digital yang diarahkan pada peningkatan efisiensi operasional dan penguatan basis dana murah (current account and saving account atau CASA). Strategi ini dinilai menjadi kunci menjaga kesehatan likuiditas di tengah meningkatnya kompetisi pendanaan. Selain itu, konsolidasi internal dalam bentuk pembenahan portofolio kredit, peningkatan pembiayaan ESG, serta diversifikasi bisnis layanan transaksi digital diproyeksi menjadi agenda utama industri menjelang tutup tahun.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, analis menilai sektor perbankan Indonesia masih berada pada jalur stabil meski menghadapi tantangan likuiditas jangka pendek. Struktur permodalan yang kuat, digitalisasi layanan, serta pengawasan moneter yang terukur memberikan landasan yang cukup bagi industri untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada awal 2026. (HQM)



